Text Widget

Sample Text

Remidi 2 Materi Bilangan

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

BTemplates.com

Pages

Blogroll

About

Thursday, 2 January 2014

Penyelesaian Soal Yang Berbeda


Guru dalam penyelesaian soal bisa berbeda dengan guru les, hal ini wajar. Umumnya guru les dalam menyelesaikan soal lebih cepat, irit langkah, dan waktu lebih hemat. Cara yang bisa dibilang cepat, belum menjamin siswa lebih paham dan efektif, manakala didapati guru sekolahnya tidak menginginkan penyelesaian lain. Ini artinya, guru sekolah menginginkan siswanya menjawab sesuai dengan cara yang guru ajarkan.
Bahkan ada guru sekolah yang marah, bila siswa menggunakan penyelesaian yang berbeda, meski hasil akhir sama. Hal ini membuat siswa bingung dan menjadi tidak bisa. Namun, bila siswa tersebut memiliki akademik yang tinggi maka siswa akan mampu memadukan dengan baik.
Oleh karenanya, guru les harus memahami hal yang demikian. Seyogyanya manakala siswa menanyakan soal atau ketidakjelasan penjelasan dari guru sekolah, siswa ditawari apakah  mau dijelaskan dengan cara guru atau cara kita. Manakala siswa memilih dengan cara kita, maka kita jelaskan hanya saja, bila saat ujian dengan soal uraian, maka guru les tetap meminta siswa mengerjakan dengan penyelesaian yang sama dengan gurunya.
Terkadang guru sekolah dalam menjelaskan materi terdapat kesalahan baik dalam konsep ataupun dalam materi yang rumit, hal ini menjadikan guru les harus pandai – pandai dalam mengatur suasana. Sebab jika berbeda dalam hasil akhir, maka tentu siswa akan bingung. Jika kita yakin bahwa guru sekolah yang salah, maka kita sampaikan ke siswa dan beri pengertian sekaligus bukti – bukti yang kuat. Dengan demikian siswa tidak lagi bingung.

Sampaikan ke anak, bahwa sekalipun guru sekolah terdapat kesalahan yang bisa jadi fatal, tetap siswa tidak boleh seenaknya menyalahkan guru sekolah tersebut tanpa mengingat kebaikan yang lain. Sebab sisi salahnya hanya sebagian kecil. Jika siswa sampai menyalahkan gurunya, otomatis guru sekolah akan memarahi siswa tersebut, dan berakibat guru sekolah akan melarang siswanya les dengan kita. 

Jangan Silau Pujian


Seringkali siswa atau orangtua siswa memuji atas usaha dan perjuangan kita. Baik pada saat siswa nilainya tinggi, berhasil masuk sekolah yang diharapkan, atau terbantu dalam proses pembelajaran. Begitu mereka memuji, di saat yang sama tatalah hati kita, sehingga akan terhindar dari ujub. Kalau perlu, tahanlah pujian itu untuk pindah ke topik yang lain, atau sampaikan bahwa semata – mata hasil yang diproleh adalah nikmat dan karunia Allah.
                Berikut ini bentuk – bentuk pujian yang mereka sampaikan :
-          Terimakasih atas bantuan Bapak, jika Bapak tidak membantu, maka tidak tahu anak saya dapat nilai berapa.
-          Saya tidak menyangka anak saya dapat nilai segini, terimakasih atas bantuan bapak selama ini.
-          Anak saya mengatakan bahwa nilai – nilanya semakin meningkat.
-          Anak saya mengatakan bahwa ketika mulai diajar Bapak, dia semakin menguasai.
-          dll
Kita pahami bahwa pujian yang diberikan adalah realisasi dari bentuk terimakasih mereka. Bahwa barangsiapa yang tidak berterimakasih kepada manusia, maka dia tidak berterimakasih kepada Allah. Hal ini logis, manakala kita turut andil dalam membantu keberhasilan anak dalam belajar, maka secara otomotis mereka akan mengucapkan terimakasih. Ucapan terimakasih yang mereka berikan, hendaknya kita mensyukurinya kembali dan kita sampaikan bahwa semata – mata itu karunia Allah.

Jikalau kita silau pujian, maka akan ada ujub dalam diri kita, dan merasa terhebat. Yang hal ini akan menjadikan kita semakin puas yang berakibat jalan di tempat. Oleh karenanya terhadap pujian, janganlah silau dan kembalikan kepada Allah atas karunia tersebut. 

Mengarahkan Siswa Les Beradaptadi Di Sekolah Baru


Awal tahun ajaran baru pada kenaikan jenjang pendidikan adalah masa di mana siswa les akan menemui sesuatu yang baru dalam fase kehidupan pendidikannya. Jika sebelumnya ia berhasil mencapai prestasi yang bisa dibilang hebat, maka di sekolah yang baru ia tidak boleh terlena dengan keadaan di sekolah yang lama. Sebaliknya, jika di sekolah yang lama ia mengalami kegagalan maka keadaannya yang demikian jangan sampai membuatnya frustasi sehingga tidak mau mengubah kebiasaan buruknya di sekolah yang baru. Ini artinya bahwa sekolah baru yang ia tempati segalanya akan berubah sehingga menuntut adanya kesungguhan untuk beradaptasi di lingkungan yang serba baru.
Hal – hal baru apa saja yang kelak didapatkan siswa les di sekolah yang baru, pertama adalah teman pergaulan. Adakalanya ia bersendirian di sekolah yang baru. Hal ini disebabkan, hanya ia saja yang bisa diterima di sekolah yang baru dan ini sangat banyak dijumpai. Begitu juga banyak siswa les SMP tertentu yang masuk di SMA tertentu seperti pindah kelas, meski demikian ia akan tetap mengalami perbedaan teman pergaulan. Kedua, staf pengajar tidak luput hampir semuanya baru. Ketika di SMP misalnya, ia menjumpai ada sebagian guru yang selalu memperhatikannya, sehingga prestasinya terjaga, namun ketika di SMA jangan kaget kalau ia tidak menjumpai sesosok guru yang mau memperhatikan dirinya seperti ketika di SMP. Ketiga, kecepatan guru dalam menyampaikan materi pelajaran. Ada seorang siswa les SMP di sekolah pinggirian, akses sarana prasarana sekolah pun terbatas, meski demikian ia mampu mendapatkan nilai yang tinggi hingga ia bias masuk di SMA favorit propinsi misalnya, bisa jadi ia akan mengalami kesenjangan yang luar biasa dalam menangkap proses pembelajaran di SMA. Ketika di SMP, gurunya biasa pelan dalam menyampaikan, sering diulang – ulang, bahkan materi pelajaran sering diberikan penjelasan yang gamblang disesuaikan dengan bahasa setempat, namun ketika di SMA favorit, ia tidak akan menjumpai yang seperti itu. Hal ini bisa menjadi kendala tersendiri bagi siswa les tersebut.

Lalu bagaimana menyikapi hal – hal yang baru tesebut ? Pertama, bahwa siswa les tersebut harus sadar bahwa apa yang dihadapi sekarang ini jauh berbeda dengan sebelumnya. Ia tidak boleh mempertahankan kebiasaan yang buruk atau kebiasaan menggantungkan hasil pembelajaran berdasar teman atau guru. Kedua, mencari teman pergaulan yang positif. Seorang siswa les akan lebih bersemangat dalam belajar dibanding dengan motivasi yang disampaikan oleh guru mereka. Mengapa ? karena mereka melihat adanya senasib sepenanggungan. Ketiga, sering pergi ke perpustakaan. Dengan perginya ke perpustakaan, otomatis siswa les dengan sendirinya beradaptasi dengan lingkungan. 

Mengarahkan Siswa Les Memilih Sekolah


Pengamatan kami dalam menyimak pemilihan sekolah masih berkisar pada nilai UN yang dimiliki. Kebanyakan dari mereka menjatuhkan pilihan berdasar nilai UN, artinya jika nilai UN tinggi mereka berani mendaftar di sekolah favorit, sedangkan bila UN rendah maka pilihan jatuh pada sekolah – sekolah yang dipandang sebelah mata. Hal ini logis karena hampir semua sekolah seleksi masuk berdasarkan nilai UN.
Pada bab kali ini, kami mencoba membuka pencerahan dalam pemilihan sekolah karena setidaknya terdapat 2 hal yang penulis temui di lapangan. Pertama, siswa lesyang nilainya tinggi kemudian dengan penuh percaya diri bersekolah di sekolah favorit,  akan tetapi di sekolah favorit tersebut prestasi tidak berkembang bahkan ia menjadi juru kunci di sekolah favorit tersebut akibatnya ia tidak bisa masuk di sekolah favorit pada jenjang lebih tinggi .Kedua, siswa les yang memiliki bakat tertentu baik itu bidang non akademik semisal  olahraga, keterampilan, seni, maupun keagamaan, karena nilainya tinggi ia masuk di sekolah favorit yang lebih menonjolkan sisi akademik, sehingga bakat lain di luar akademik tidak berkembang optimal.

Berdasarkan hal – hal di atas, seyogyanya dalam menjatuhkan pilihan sekolah, orangtua yang memiliki anak dengan nilai UN  tinggi janganlah hanya memperhatikan masalah nilai UN semata. Beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya : pertama, jika si anak memiliki nilai UN tinggi, kemudian sering juara kelas (mentalitas juara), kemampuan komunikasi verbal bagus, tingkat pendidikan dan ekonomi  orangtua mendukung, maka penulis menyarankan masuk di sekolah favorit propinsi. Jika berkurang sisi pendukung – pendukung di atas, maka carilah sekolah favorit kabupaten atau kecamatan. Kedua, jika si anak memiliki nilai UN tinggi, tapi di sisi non akademik lebih menonjol, maka carilah sekolah yang menonjolkan sisi non akademik tersebut, karena di sekolah tersebut siswa lesakan berkembang dengan pesat sisi non akademiknya. Ketiga, siswa les yang meniliki nilai UN SD tinggi, namun belajar malas maka jangan memilih sekolah yang favorit propinsi/kabupaten tapi cukuplah memilih sekolah favorit kecamatan atau jika nilai UN SMP nya bagus tapi sudah malas untuk berkompetisi, penulis menyarankan untuk memilih SMK. Perlu digaris bawahi bahwa sekolah favorit tidaklah mesti mencetak 100% output siswanya favorit. Oleh karenanya hal prinsip dalam memilih sekolah adalah pilihlah sekolah yang mampu mengembangkan sisi akademik atau sisi non akademik si anak, meskipun sekolah tersebut dipandang sebelah mata oleh masyarakat.